Wisata Desa Munduk Temu Mulai Berbenah

Saat ini, Tabanan sedang menerapkan agribisnis berbasis kearifan lokal dan pariwisata dikawasan Nikosake atau Nira, Kopi, Salak dan Kelapa. Program ini sedang disusun materinya, perinciannya dan perencanaan untuk membentuk Perdanya.

Setelah melakukan Focus Discussion Group selama dua kali, lima desa yang masuk dalam kawasan Nikosake diharapkan dapat mengetahui potensinya dan membuat program serta desain yang jelas dan mendetail. Sementara, salah satu desa yang masuk dalam kawasan Nikosake ini adalah Desa Munduk Temu Pupuan.

Untuk persiapan dalam melaksanakan program ini, pihak Desa Munduk Temu mengajak masyarakat untuk sama-sama menyukseskan program tersebut. Perbekel Munduk Temu, I Nyoman Wintara mengatakan bahwa desa Munduk Temu saat ini sedang menyiapkan pendukung untuk program kawasan wisata Nikosake.

Salah satu caranya yaitu dengan membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menyambut program ini. Dan kesadaran masyarakat yang perlu ditingkatkan di sini adalah menjaga ekosistem alam dan kebersihan lingkungan. Untuk langkah ini, pihak desa dinas telah bekerjasama dengan desa adat untuk membuat perarem mengenai sampah.

“Jadi di desa sudah kami tumbuhkan kesadaran memilah sampah organik dan non organik dalam hal ini sampah plastik. Sudah kami kerjasamakan juga dengan pihak ke-3 untuk pengambilan sampah plastik ini,” ujar Wintara.

Wintara juga mengatakan, bagi yang membuang sampah sembarangan akan dikenakan denda. Terutama bagi warga yang tinggal di Desa Pekraman Munduk Temu dikenakan denda Rp 250 ribu. Untuk Desa Pekraman Kebon dikenakan denda Jero Rp 100 ribu. Sementara, untuk desa Dinas dibandingkan denda, sanksi yang diberikan adalah sanksi sosial dimana foto pelaku yang membuang sampah sembarangan akan di upload di medsos milik desa.

Di samping sanksi dan pemilahan sampah, pihak desa akan menanamkan kebiasaan menjaga kebersihan pada anak-anak dengan program Lisa (Lihat Sampah Ambil) yang dilaksanakan setiap hari libur. Selain sampah, Desa Munduk Temu juga mengeluarkan aturan untuk menjaga populasi burung punglor dalam menjaga ekosistemnya.

Dimana aturan berupa pembatasan pengambilan anak burung ini akan diingatkan setiap lima tahun sekali. Aturan ini sudah berlaku di tahun 2018 dan akan kembali diterapkan pada tahun 2023.

Persiapan lain yang sedang dalam proses pelaksanaan adalah penataan sungai serta penataan kebun buah seperti salah gula pasir milik petani, sehingga nantinya desa ini bisa dijadikan lokasi wisatawan untuk melakukan swafoto maupun melakukan aktivitas petik buah secara langsung. Sementara luas perkebunannya sendiri, Desa Munduk Temu memiliki perkebunan seluas 1200 ha.

Produk perkebunan yang menjadi andalan Desa Munduk Temu adalah salak gula pasir dan kopi. Dimana untuk pengembangan kawasan wisata Nikosake nanti, pihak Desa Munduk Temu pun telah menyiapkan aktivitas petani kopi. Mulai dari pembibitan, panen dan mengolah kopi hingga siap saji sebagai daya tarik wisatawan.

Sumber : Bali Bersih